2005
Terima Kasih
Sponsored Links
Beberapa hari lalu. gw akhirnya berkesempatan nonton tayangan reality show “Terima Kasih” di SCTV. Di sesi pertama, diceritakan ttg seorang petugas POM bensin yg sudah bekerja bertahun-tahun, tapi jarang sekali menerima ucapan terima kasih dari orang-orang yg membeli bensin. Selama 1 jam, jika ada orang yg mengucapkan terima kasih setelah diisi bensinnya, maka ia akan mendapatkan uangnya kembali alias bensin yg ia beli tadi gratis. Hasil akhirnya, dlm selang waktu itu, 67 orang mengisi bensin, dan hanya 3 orang saja yg mengucapkan terima kasih, yaitu seorang pengendara mobil (lumayan tuh, 100rb bensin gratis :p> dan 2 orang pengendara motor.
Di sesi kedua, diceritakan ttg seorang ibu yg beberapa tahun lalu dibantu oleh seorang wanita, namun sampai sekarang ia belum sempat membalasnya. Ceritanya, pada waktu itu, ia pergi ke pasar malam bersama anaknya. Seperti biasa, namanya anak kecil, pasti pengennya liat-liat ke sana-kemari. Alhasil ia pun tersesat dan ibunya juga tidak bisa menemukannya. Anak kecil itu pun terus berjalan mencari ibunya, sampai keluar area pasar malam, dan sampai di depan sebuah rumah. Ia kemudian duduk di depan rumah itu dan menangis. Tak lama kemudian, dari dalam rumah keluarlah seorang ibu, yg kemudian mengantarkan anak tersebut ke rumahnya, dimana ibunya sedang menunggu sambil cemas. Pada waktu itu, ibu itu hanya bisa mengucapkan terima kasih pada ibu yg telah mengantarkan anaknya pulang.
Setelah lewat beberapa tahun, ibu dan anaknya itu kemudian berkunjung ke rumah ibu penolong itu. Sesampai di sana, ternyata ibu itu sedang bekerja dan di rumah hanya ada anak perempuannya. Mereka pun mengobrol, dan anaknya cerita kalo ia baru saja masuk sekolah dan ibunya harus menggadaikan perhiasannya sebagai biaya sekolahnya. Karena melihat kesempatan untuk balas budi, si ibu yg anaknya ditolong ini, kemudian meminta surat gadai perhiasan tersebut, dan berangkat ke pegadaian untuk menebusnya. Sekembalinya dari pegadaian, ibu penolong ternyata sudah ada di rumah, ngobrol2, dan terjadilah adegan saling berpelukan dan bertangisan. Pada saat itu, ada sebuah dialog yg cukup menyentuh, yg kira2 spt ini:
Ibu Penolong: Saya kan menolong anak ibu ikhlas, tidak mengharapkan balasan apa2. Kok sampai ditebus perhiasannya segala?
Ibu yg Ditolong: Bu, kehilangan perhiasan masih bisa ditebus, tapi kalo kehilangan anak yg kita sayangi, bagaimana cara menebusnya?
Oke lah, gw gak akan banyak komentar ttg cerita yg kedua krn belum punya anak (apa coba??? :)>. Kembali ke cerita pertama, gw jadi teringat ama diri gw sendiri. Dari kecil sebenarnya gw bukan orang yg biasa ngucapin terima kasih. Jangankan dng orang lain, dng keluarga sendiri aja hampir gak pernah. Pada sekitar kelas 3 SMP atau SMA kelas 1, gw berlibut ke Jakarta dan pergi jalan2 bareng sodara. Ternyata sodara gw ini bener2 sopan. Dia selalu ngucapin terima kasih dng siapa pun, termasuk penjaga karcis mobil. Entah knp, saat itu gw ngerasa bener2 kagum ama dia, dan akhirnya mutusin untuk ikutan spt itu. Dan alhamdulillah, akhirnya skr gw udah terbiasa untuk ngucapin terima kasih pada siapapun dimanapun. Thanks to my cousin :))
Kalo melihat cerita petugas POM bensin tersebut yg ingin sekali merasakan diberi ucapan terima kasih oleh orang2, kembali gw inget pengalaman2 gw ngucapin terima kasih. Mungkin krn jarang ada orang yg ngucapin terima kasih ke mereka, seringkali reaksi mereka berlawanan dng dugaan (ato harapan?) gw. Ada yg nyuekin, ada yg bengong, dan ada yg ngeliat dng tatapan aneh. Penjaga karcis mobil di Galaxy Mall adalah yg paling sering nyuekin gw :p Sedang yg paling sering ngebales adalah penjaga di Surabaya Plaza a.k.a Delta Plaza (makasih bapak2 penjaga m(^_^)m). Yg bikin gw berpikir, knp ya mereka nyuekin gw? Apa mrk sendiri juga tidak terbiasa untuk ngucapin terima kasih? Apa mrk sudah terlalu sibuk dan capek bekerja? Jika gw bayangin diri gw di posisi mrk, pasti gw akan amat sangat berterima kasih sekali jika ada orang yg berterima kasih ke gw. Bukan mengharapkan, hanya saja rasanya gw akan merasa dihargai dan tidak dianggap rendah oleh orang tsb.
Terakhir, jika dibandingkan dng kasus di atas yg diambil di Jakarta, di tempat gw, di Surabaya, rasanya masih sedikit lebih baik. Pengendara mobil masih banyak yg ngucapin terima kasih, terutama mobil-mobil angkutan umum, pick-up, dan sejenisnya. Kalo untuk motor, mungkin gak beda jauh kondisinya. Mungkin krn kalo motor ngisinya cepet dan gak ribet, beda ama mobil.
Anda sendiri gimana?

And while you're here, why don't you check out our other articles:
Pssst! Most people are coming to this page searching for:
We are pleased to offer you this exciting, new, and entirely free professional resource. Visit our 



[...] installing Extreme Tracking, I’ve noticed that there are many (image) searches coming to this post just because I put her picture there (image on the right). The post itself uses Indonesian language [...]