2005
House of Wax
Sponsored Links
Sore tadi gw nonton Kingdom of Heaven bareng Adhe di bioskop Mitra yg baru dibuka lagi beberapa hari lalu setelah sekitar setaonan vakum. Sempet ketipu (bersama dng puluhan orang penonton lainnya) waktu di counter tiket ternyata tertulis:
Harga PaHe tidak berlaku pada hari libur/besar atau malam hari libur/besar.
Berhubung besok hari libur, ya udah deh, tambahan pengeluaran Rp 7500,- x 2
Padahal alasan utama gw pengen nonton adalah hari ini hari Senin (waktunya PaHe atau Paket Hemat di seluruh jaringan 21) dan harga PaHe di Mitra adalah yg paling murah, cuman Rp 10000,- Jelas gak rugi dong kalo nonton film yg 3 jam kayak KoH itu.
Yah, gw gak akan cerita banyak ttg film ini karena udah banyak yg bahas, seperti di sini. Yg jelas sih gw cukup puas dng filmnya (tapi adegan perangnya kurangggg), cukup adil dalam penyajian sudut pandang antar masing2 pihak yg berperang, dan yg utama, jagoannya (Orlando Bloom) gak mati :p Habis akhir2 ini film yg sejenis kan jagoannya mati, bosen dong kalo yg ini mati juga, heheheh. Ada yg bikin bete juga seh, yaitu 3 orang cewek yg duduk di samping gw, yg tiap Orlando Bloom di-close-up spontan ngomong: “Duh cakepnya”, “Gila gantengnya”, “Keren amat sih”… plis dehhhh!!!
Sebagai gantinya, ayo cerita ttg House of Wax aja. Film ini adalah remake dari film klasik dng judul yg sama yg dibuat sekitar 50 tahun silam, tepatnya tahun 1953. Uniknya, pendahulunya itu juga merupakan sebuah remake dari film Mystery of the Wax Museum yg dibuat pada tahun 1933. Mungkin bisa disebut sbg remake dari sebuah film remake (re-remake?). Gw sama sekali gak tau ttg Mystery of the Wax Museum, so I guess we skip that one out. Pada versi klasik, House of Wax bercerita tentang seorang seniman atau pembuat patung lilin yg menjadi seorang psikopat gara2 museum patung lilinnya (plus patung2nya tentunya) terbakar habis (ato lebih tepatnya dibakar). Sehingga ia kemudian berubah menjadi pembunuh dan membuat patung2 lilin untuk museumnya yg baru dng menggunakan tubuh/mayat orang yg ia bunuh. Film yg dibintangi oleh Vincent Price dan Frank Lovejoy ini memiliki alur cerita yg kuat dan untuk ukuran jaman baheula, menggunakan efek yg lumayan apik (walopun gw bingung kenapa jendela museum bisa ikut kebakar…). Untuk genrenya lebih mengarah ke misteri, bukan horor.
Bagaimana dng House of Wax versi millenium? Dibintangi oleh Elisha Cuthbert, Chad Michael Murray, dan Paris Hilton (!), film ini lebih mengarah ke genre suspense-horror (dng porsi suspense yg lebih banyak krn gw ngerasa serem sedikit pun). Ceritanya jauh berbeda dng versi klasik, dimana diceritakan ada sekumpulan remaja yg sedang dalam perjalanan ke suatu tempat kemudian di tengah jalan berhenti untuk bermalam. Karena ada masalah dng salah satu kendaraan yg mereka pakai, sebagian dari mereka kemudian menuju ke kota terdekat untuk mencari bengkel. Kota tersebut ternyata adalah kota dimana terdapat sebuah pertunjukkan rumah lilin (House of Wax). Bukan itu saja, setelah diselidiki ternyata seluruh manusia yg ada di kota tersebut juga berupa patung lilin. Pada akhirnya mereka semua harus menghadapi 2 orang psikopat kembar, Vincent dan Bo, yg ingin menjadikan mereka sebagai patung lilin juga.
Yg membuat kecewa adalah alur cerita yg terkesan seadanya. Tidak ada penjelasan ttg siapa itu Vincent dan Bo. Pada awal film memang ada sebuah adegan masa lalu (tahun 1974), tapi sama aja, tidak ada penjelasan ama maksud adegan tersebut. Apakah itu masa lalu kedua psikopat? Tidak jelas. Kenapa Vic dan Bo menghabisi seluruh kota dan membuatnya jadi kota lilin? Tidak jelas. Siapa orang yg mengintip di jendela pada awal mereka masuk ke rumah lilin? Tidak jelas. Bahkan pada saat sebuah fakta mengejutkan yg dimunculkan di akhir film (spt biasa lah, khas film horor), rasanya menjadi biasa2 aja. Bandingkan dng film Freddy vs Jason yg memiliki ending yg seru (dari sisi Freddy Kruger).
Ada sebuah adegan cukup menarik dari kedua film tersebut yg mirip. Pada versi lama, seorang laki-laki disangka sebagai patung lilin, sedangkan di versi baru, seekor anjing-lah yg disangka sbg patung lilin. Mungkin penamaan tokoh psikopat Vincent juga disengaja (remember, tokoh utama versi klasik diperankan oleh Vincent Price).
Momen2 yg tidak boleh dilewatkan pada versi 2005:
- Saat Paris Hilton terbunuh. Keren banget adegannya :p
- Saat Elisha (sbg Carly) dan Chad (sbg Nick) bersembunyi dari kejaran Bo di dalam bioskop. Di sana mereka berpura2 sbg patung lilin.
- Saat rumah lilin terbakar, termasuk saat Vincent jatuh di atas Bo. Lucu, kok bisa pas yah jatuhnya :p
Terus terang sih gw gak rekomendasikan film ini. It’s not worth your money. Tapi kalo nge-fans ama Paris Hilton, boleh lah ditonton :d Toh cewek ini gak jelek2 amat maennya (jauh lebih mending daripada liat dia di Simple Life). Lagipula ada adegan dia lagi goyang striptease, hmmmm, yummy :))




And while you're here, why don't you check out our other articles:
Pssst! Most people are coming to this page searching for:
We are pleased to offer you this exciting, new, and entirely free professional resource. Visit our 


